SETELAH penerbangan selama 26 jam yang melelahkan, Saya akhirnya mendarat di Houston dengan selamat. Saya mendarat di George Bush Intercontinental Airport sekitar pukul 16.30 waktu setempat.
Houston, Texas diketahui adalah kota terbesar keempat di Amerika Serikat yang berada di wilayah tengah Amerika. Daerah ini dikenal dengan Cowboy, kuda dan sapi yang sering kita lihat di film-film western Amerika.
Selain itu, Houston adalah kota dari negara bagian Texas yang terkenal dengan industri minyak. Hampir semua perusahaan minyak kelas dunia, ada di Houston. Sebut saja Exxon, ConocoPhilips, Chevron, Mobiloil dan banyak lagi.
Kunjungan saya ke Amerika Serikat kali ini adalah yang ke 5 kalinya. Dua bulan lalu, saya juga sempat berkunjung ke negeri Paman Sam ini menghadiri undangan GAO (BPK-nya Amerika Serikat).
Kunjungan ke Houston kali ini, adalah berkenaan dengan undangan Konferensi Minyak Dunia dengan tema ”Offshore Technology Conference”.
Hampir semua perusahaan minyak hadir dalam kegiatan tersebut, guna melakukan evaluasi, kajian dan pameran yang mewakili masing-masing negara.
Pertamina juga hadir ambil bagian dalam pameran ini. Seluruh pesawat menuju Huoston penuh, para raja minyak berkumpul dari Afrika, Timur tengah, Eropa dan kawasan Amerika sendiri.
Lembaga audit seperti BPK menjadi penting guna menyampaikan kondisi kontraktor minyak yang ada di Indonesia.
Sebagai anggota BPK yang membawahi Migas, banyak informasi dan masukan saya peroleh terutama terkait dengan cost recovery yang setiap tahun membebani APBN kita.
Ternyata hanya Indonesia yg menganut system Cost Recovery, dimana kontraktor dapat mereimbursh (mengganti) biaya explorasi lewat APBN.
Hal inilah yang membuat para kontraktor Migas dunia sangat berminat datang untuk menggali minyak di Indonesia. Ditengah kondisi minyak dunia yang sedang turun, Indonesia masih menjadi magnet bagi pemburu minyak untuk tetap bekerja.
Hal ini salah satunya dikarenakan karena APBN kita menyediakan dana (cost recovery) yang siap mengganti jika berhasil menemukan sumur minyak baru.
Kita harus mengevaluasi sistem ini, dan Pemerintah harus berani menerapkan pola bisnis yang wajar dengan resiko yang menjadi tanggungan mereka.
Saya kaget sekali, ternyata orang asing yang bekerja di minyak Indonesia bisa mendapat 12 juta dolar AS setahun (atau Rp1 miliar per bulan) sebagai gaji mereka, dan itu diganti oleh APBN melalui Cost Recovery.
Tanpa terasa, Indonesia sudah menjadi surga bagi pekerja minyak asing. Pantesan para bule yang bekerja di minyak itu betah berada di negeri ini. ”Salam Pojur Indonesia”.
Sumber:http://korankabar.com/indonesia-surga-bagi-pekerja-minyak-asing/ (Adi)