AQ : Kelak, satelit BRI ini akan mengorbit di slot 150,5 BT, jalur ini pernah dipakai Satelit Palapa B-2 milik PT Indosat.
Sebuah Catatan Pribadi, San Fransisco, AS
SETELAH mengunjungi New York, agenda berikutnya adalah menuju San Fransisco. Saya menempuh jalur udara selama lima jam dengan BlueJet. Berangkat tepat pukul 08:00 pagi dari Bandara John F Kennedy dan tiba sore hari dengan perbedaan waktu 3 jam. Di San Francisco, saya sudah dinantikan sejumlah Direksi BRI yang turut menemani dalam kunjungan ke Negeri Paman Sam kali ini. Suhu setempat cukup bersahabat.
Sekitar 10 derajat celcius atau rasanya seperti di kawasan Puncak Bogor di malam hari. Sebagai salah satu kota di negara bagian California, San Francisco termasuk kota yang bercuaca relatif lebih nyaman.
Tidak ada winter dan summer. Sehari-hari mendung dengan sesekali matahari muncul selama 1-2 jam saja. Kondisi alam demikian, menjadikan San Francisco merupakan satu kota di AS yang dilirik banyak kalangan bisnis. Hampir semua kegiatan sukses di sini karena cuaca yang bersahabat.
Tak heran jika sejumlah perusahaan besar terutama yang bergerak di bidang IT, menempatkan kantor pengendali di kota ini. Sebut saja Hewlett-Packard (HP), Skype, Google, PayPal, Apple dan Facebook serta Logitech. Selain itu, juga sejumlah industri satelit.
Kantor-kantor pengendali perusahaan IT kelas dunia itu berada dalam satu kawasan bernama Palo Alto. Di tempat parkir, saya sempat ‘menemukan’ mobil purwarupa dengan teknologi baru Google yang disebut-sebut berkemudi otomatis alias tanpa sopir.
Di kawasan inilah, Bank Rakyat Indonesia memesan satelit guna menopang transaksi keuangan internasional yang sudah berjumlah jutaan. Satelit ini dipesan ke perusahan bernama ‘Space System Loral’ (SSL). Kelak, satelit BRI ini akan mengorbit di slot 150,5 BT, jalur ini pernah dipakai Satelit Palapa B-2 milik PT Indosat.
Karena PT Indosat sudah dijual ke asing, maka Indonesia terancam tidak mendapat jaringan orbit. Atas hal tersebut maka Bank BRI memanfaatkan slot tersebut untuk tetap digunakan oleh Bangsa Indonesia. Tentu saja guna menunjang teknologi informasi yang semakin dibutuhkan oleh Rakyat Indonesia.
Harga yang harus dibayarBRI untuk membuat satelit tersebut adalah USD250 Miliar, atau setara Rp3 triliun. Saya menjadi saksi dan melihat secara langsung proses bersejarah tersebut, dan Insya Allah tahun 2016 sudah bisa diluncurkan di Arianspace (Prancis). Selamat kepada Bank BRI.
Sumber:http://korankabar.com/menjadi-saksi-sejarah-kelahiran-brisat/ (Adi)