Polandia - Sore hari di Krakov, dipenuhi oleh masyarakat kota yang duduk bercengkrama di café- café pinggir jalan. Mereka menikmati summer (musim panas) dengan sejumlah kegiatan yg unik dan atraktif.
Masyarakat Krakov berasal dari bangsa Slav yang suka berkelompok dan bercengkrama. Mereka sangat menghargai perbedaan sehingga Polandia bukanlah bangsa penjajah seperti Jerman dan Rusia.
Mereka lebih senang duduk-duduk sambil minum dan berpesta. Pada akhirnya, banyak bangsa-bangsa lain datang ke Polandia dan hidup tentram di Krakov yang terkenal dengan sikap toleransi penduduknya.
Jika datang ke Krakov, kurang lengkap rasanya jika tidak mengunjungi ‘Tambang Garam’. Ya tambang dan bukannya tambak. Di Madura, kita biasa mengenal tambak garam karena berlokasi ditepi laut.
Di Polandia, tepatnya di Krakov, memiliki sejarah dalam pertambangan garam. Saat ini, tambang garam "Salt Mine" sudah menjadi tempat wisata. Pertambangan garam di Polandia sangat unik dan berbeda dengan industri garam disejumlah Negara lain, termasuk di Madura.
Meski saat ini pertambangan garam tersebut sudah tidak lagi berproduksi lagi, tetapi lokasi tersebut masih menyisakan sejumlah ruang dan cekungan yang dalam dan kemudian dibentuk patung-patung unik.
Suatu keajaiban di Krakovmenjadi lokasi tambang garam. Krakov tidak terletak di tepi pantai, tetapi berada diperbukitan yang jauh dari laut. Bagaimana mungkin ada garam diperbukitan? Sementara sejauh ini kita mengenal peribahasa asam di gunung, garam di laut.
Saya mencoba mendatangi "Salt Mine" yang terletak di sebelah tenggara Krakov. Kawasan tersebut berjarak tempuh sekitar 15 menit dari pusat kota Krakov. Tambak Garam yang dimaksud merupakan tanah dengan kadar garam yang rendah.
Garam tersebut berada di kedalaman 300 meter di bawah permukaan tanah. Saat ini tidak lagi ditambang dan haanya dioptimalkan menjadi tempat wisata unggulan di Krakov.
Mereka ‘mengukir’ tanah garam dalam berbagai macam bentuk yang sangat indah. Pemerintah Polandia sangat peduli terhadap keunggulan yang dimiliki. Mereka membuat suatu tempat yang indah. Setelah tahu bahwa garam mereka tidak layak untuk dikonsumsi karena berkadar rendah. Mereka menghargai alam dengan mengambil keuntungan melalui cara lain, yakni mengeksplorasi lokasi tambang garam menjadi tempat wisata.
Tambak Garam tersebut berada di areal 10 hektare. Di dalamnya dibangun castil-castil layaknya sebuah istana yang berada di dalam gua sehingga terkesan sangat indah dan menakjubkan.
Tempat penjualan souvenir ditata rapi. Informasi dan petunjuk serta penjelasan tentang sejarah "Salt Mine" disajikan begitu jelas dan mengutamakan kenyamanan wisatawan.
Kembali saya diingatkan oleh keindahan dan keunikan Madura akan sejarah masa lalu. Kita masih belum mengemasnya secara optimal. Kita masih harus lebih giat lagi menghargai kelebihan alam dan keunikan sejarah Madura.
Sehingga apapun yang ada di Bumi Madura betul-betul kita upayakan sebagai bagian dari alat untuk menambah pemasukan dan penerimaan yang bisa kita gunakan kembali untuk kepentingan alam dan kepentingan manusia.
Kita memang masih harus banyak belajar. Cara bangsa Polandia dalam menghargai alam dan sejarah wajib kita tiru. Namun cara mereka menghabiskan waktu di café-cafe sambil minum bir dan whisky sampai mabuk, tentunya tidak perlu kita tiru.
Tidak semua budaya bangsa Polandia jelek. Sebaliknya, juga tidak semua budaya bangsa kita baik. Mari kita menyesuaikan kebaikan karena Madura sangat membutuhkannya. Setuju? Semoga.