blog_img1

Kerjasama Tim, Inkonsistensi Kebijakan dan Covid-19

Salah satu hukum besi dalam sepakbola adalah keharusan adanya kerjasama sehingga bermain sebagai sebuah tim, bukan semata-mata individu. Keahlian menggiring bola, tendangan spektakuler, sodokan maut dan seterusnya memang enak dilihat. Tapi itu semua tak akan berarti banyak jika tak dikemas dalam paduan kebersamaan di semua lini.

Rumus matematikanya sederhana. Jika satu tim terdiri dari sebelas pemain dan setiap pemain bermain individual, kekuatannya kita sebut sebagai seratus persen. Tetapi jika kesebelas pemain bekerjasama—dengan saling mendukung berbagi dan sebagainya—maka kekuatannya akan berlipat ganda.

Secara matematika: kerjasama tim sama dengan kekuatan sebelas atau seratus persen ditambah kekuatan tambahan yang terlahir dari  kerjasama. Itu bisa menjadi seratus sepuluh, seratus dua puluh atau bahkan dua ratus persen. Sehingga dengan kekompakan bagus, meskipun tanpa banyak pemain mahal, bukan mustahil sebuah tim gurem bisa mengalahkan tim bertabur bintang.

Tetapi itu belum semua. Dalam sepakbola, penonton dan pendukung adalah pemain keduabelas, ketigabelas dan bisa lebih banyak lagi. Klub-klub yang dikelola dengan baik pasti punya ribuan atau jutaan pendukung. Insentif yang diberikan para pendukung ini juga bukan hanya secara ekstrinsik—menonton, membeli jersey, meramaikan arak-arakan—tetapi lebih dari itu adalah membantu para pemain dan klub dalam apa yang disebut Abraham Maslow sebagai aktualisasi diri.

Sesuai Maslow, menjadi pemain bola—dan profesi lain apapun di dunia ini—bukan hanya soal pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan, sandang dan papan. Pada tingkat yang lebih tinggi, hidup adalah soal becoming atau proses menjadi dan pada tahap tertinggi sebagai human being, manusia matang yang mendapat pengakuan atas keberadaannya, baik oleh orang lain serta terutama oleh dirinya sendiri. Itulah manusia yang aktual.

Tim dengan tiga atau empat saja pemain matang di tiga lini utama—belakang, tengah dan belakang—bukan hanya lebih cenderung menang, tapi lebih enak ditonton. Para pemain yang sudah aktual ini  akan menjadi pemimpin yang berkarisma dan unggul di lini masing-masing. Permainan akan terarah: para penyerang seperti dimanjakan, lapangan tengah dikuasai dan pertahanan menjadi kokoh.

Dalam arus pandemi yang belum kunjung usai ini—bahkan mungkin saja tak akan usai sama sekali sehingga kita harus betul-betul hidup dalam kenormalan baru—para pemimpin nasional dan wilayah semestinya ibarat pemain bola yang bermain dalam satu tim. Keberhasilan mereka bukan hanya menjadi taruhan bagi nasib individual tetapi lebih besar lagi sebagai taruhan bagi tim dan rakyat yang telah menyandarkan hidup mereka pada negara ini.

Pemimpin yang egosentris—yang terus mementingkan diri atau kelompok sendiri atau tak matang-matang—satu saat akan memudar dan tak laku. Dalam dunia sepakbola yang enak ditonton namun sebenarnya keras, ribuan talenta hebat bisa saja muncul setiap tahun. Dengan bakat alamiah, kesempatan, atau latihan tertentu mereka memukau publik, mendapat nama dan melesat bak meteor. Tapi dalam waktu tak lama sinar mereka memudar dan hilang dalam keluasan alam raya.

Selain soal keterampilan teknis, kematangan diri politisi atau pejabat menjadi penentu apakah mereka bisa bekerja dalam tim. Salah satu kutukan berat bagi tim, jika tak terdapat pemimpin yang matang, adalah terlahirnya orientasi menyalahkan. Dan ini dilakukan karena merupakan cara yang mudah dalam membela diri—secara psikologis maupun sosial—ketika gagal atau dinilai gagal, serta dalam dinamika sosio-kultural Indonesia tindakan tak beradab ini cenderung mudah dilupakan masyarakat.

Seolah-olah—dengan menyalahkan orang lain, situasi, alat dan obyek-obyek lainnya—urusan menjadi selesai. Padahal, jika dikulik secara saksama, tindakan menyalahkan orang lain itu tak lebih dari upaya menutup kekurangan dalam rangka mendapatkan pembenaran. Dan dalam agama apapun kita belajar, bahwa kalaupun terlihat ada kekurangan pada orang lain, wajib itu direnungkan sebagai kelemahan kita sendiri.

Dalam sebuah tim sepakbola, jika pelatih atau anggota tim offisial telah melihat gejala orientasi menyalahkan, berarti telah tiba waktunya untuk membangun kembali konsolidasi tim. Pemusatan latihan, pelatihan-pelatihan kerjasama tim menggunakan jasa konsultan psikologi dan kegiatan kekeluargaan biasanya menjadi alternatif. Sebab jika tidak, performa tim akan terus menurun, konflik manifes dan laten akan semakin melebar dan dalam, dan jika dibiarkan itu berarti bahwa tim tersebut sedang menunggu bom waktu.

Dalam politik bencana saat ini—yang fokus pada penanganan sektor kesehatan dan pemulihan ekonomi—orientasi saling menyalahkan ini telah kembali berulang. Salah satu indikator paling kasat mata adalah bagaimana Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta menjadi isu nasional (14/09/2020), mengganggu stabilitas ekonomi dan masuk ke wilayah politik identitas.

Secara sepakbola, di mana pemerintah pusat bisa kita posisikan saja sebagai tim manajer yang sudah dipercaya publik untuk memimpin tim berjuluk Indonesia, proses rekonsolidasi harus terus-menerus dilakukan. Ini bukan waktunya untuk adu pintar. Sebab itu pasti merusak permainan tim sehingga pertempuran melawan Cocid-19 tak akan pernah benar-benar dimenangkan.

Sementara itu, supaya terdapat fokus dan konsistensi dalam satu arah dan tujuan di lapangan, tata aturan harus  fokus, konsisten serta koheren. Peraturan yang berubah-ubah tanpa sebab khusus akan membuat tim di lapangan kebingungan dan bekerja bagai berlayar dengan kompas yang rusak. Tidak saja menyulitkan dalam hal eksekusi tetapi juga dalam penegakan transparansi dan akuntabilitas.

Peraturan Pemerintah yang cenderung sering berubah membuat kebingungan baru ditingkat pelaksana. Perubahan dari Gugus Tugas yang sudah siap dengan perangkatnya, dua bulan kemudian diganti menjadi Komite Penanggulangan Covid-19 dan PEN, yang membuat struktur menjadi berubah. Sementara kesesuaian aturan dan pelaksanaan menjadi kewajiban mereka dalam menjalankan transparansi dan akuntabilitas.

Konsekuensi dari ketiadaan konsistensi, fokus dan koherensi ini sudah sama-sama kita lihat. Faktor ini menjadi salah satu penyebab keterlambatan realisasi anggaran, perubahan struktur kelembagaan, kesulitan sinkronisasi aturan serta perbedaan pelaksanaan di lapangan. Alhasil, pandemi Covid-19 ini tak kunjung bisa ditaklukkan.

Begitu pula di lapangan. Para gubernur, bupati dan walikota adalah para pemain di lapangan—di mana sesuai hukum tata negara kita dalam situasi darurat bencana berada di bawah komando pemerintah pusat. Jika memilih untuk bermain individual, yakinlah kalau Anda akan seperti meteor, melesat muncul seketika tapi akan hilang dan memudar dengan cepat.

Belajar dari sepakbola, pilihan terbaik dalam kerja apa pun juga adalah dengan melipatgandakan kekuatan dalam kegotongroyongan, sehingga setiap lini lapangan tak mempan diserang lawan. Kemenangan harus menjadi kemenangan bersama, bukan kemenangan diri-pribadi.

Allaahu a’lam bi al-shawaab.