blog_img1

Berlebaran Secara New Normal

Idul Fitri atau Lebaran tahun ini, 1441 H—demikian pula halnya dengan Ramadhan—bukanlah kali pertama dijalankan dalam suatu new normal. Sejak pertama kali disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW dan dirayakan oleh kaum Muslimin, Idul Fitri dan demikian pula Idul Adha telah menjadi salah satu simbol tindakan transformatif dalam sejarah Islam.

Berdasarkan beberapa hadis, kedua perayaan keagamaan ini mulai dirayakan setelah peristiwa Hijrah, yakni perpindahan besar-besaran umat Islam dari Makkah ke Madinah pada 622 M. Diriwayatkan dari Imam Anas Ibn Malik bahwa tak lama setelah hijrah, Rasulullah diberitahu kalau penduduk Madinah melakukan perayaan pada dua hari tertentu. Dalam kedua perayaan tersebut, mereka bersenang-senang dengan kegiatan rekreasi dan hiburan.

Rasulullah kemudian memberitahu bahwa umat Islam lebih baik merayakan Idul Fitri dan Idul Adha (Musnad Imam Ahmad ibn Hanbal, Jilid 4). Idul Fitri adalah perayaan atas kemenangan besar setelah berpuasa sebulan penuh—suatu proses yang disebut sebagai jihad al-akbar, jihad besar—dan Idul Adha adalah perayaan dalam konteks keberanian dan kerelaan berkorban.

Dalam new normal yang diakibatkan oleh peristiwa hijrah, kita tahu, komunitas Islam yang berasal dari Makkah harus menyesuaikan diri dalam satu lingkungan alam, sosial, ekonomi dan budaya yang baru. Beberapa hal yang membantu kaum Mulismin adalah adanya persamaan bahasa dan telah adanya hubungan tradisional sebelumnya, seperti dalam perdagangan dan sebagainya.

Akan tetapi, pada dasarnya, berbagai aspek kehidupan harus disesuaikan secara permanen. Penyesuaian diri menjadi cara untuk melanjutkan kehidupan dan perjuangan menegakkan dakwah. Hati dan pikiran, meskipun selalu terkenang pada tanah asal di Makkah, harus dijernihkan dan diorientasikan untuk membangun kehidupan baru di tanah yang baru dengan dinamika dan berbagai tantangan tersendiri.

Jika dilihat secara psikologis, dalam konteks hijrah ini, sabda Rasulullah tentang Idul Fitri dan Idul Adha juga bermakna lebih jauh. Komunitas Islam yang masih baru memerlukan tradisi-tradisi kultural tersendiri yang tidak boleh dilepaskan dari konteks tawhid dan ibadah. Sebagai komunitas, harus terdapat simbol-simbol yang meneguhkan identitas serta membesarkan dan menyenangkan hati, namun itu harus berakar pada prinsip hablum minallah, konektivitas manusia dan apapun yang dilakukannya dengan Sang Pencipta.

Seiring dengan itu, kita lihat, pada periode pasca-hijrah yang biasa disebut juga sebagai periode Madaniyyah, adalah masa di mana ayat-ayat tentang ibadah sebagian besar diwahyukan. Demikian pula dengan berbagai ketentuan tentang kehidupan komunal, seperti tentang hukum publik, perang, tata sosial, dan hubungan antar-negara. Ini berbeda dari periode sebelumnya—Makkiyah—dimana tawhid dan akhlaq menjadi fokus utama.

Kembali pada situasi saat ini, sesuai dengan semangat hijrah, adalah tidak tepat tentu saja, jika masih ada umat Islam yang berlarut-larut menyesalkan tentang perayaan Idul Fitri—demikian pula dengan Ramadhan—yang disebut kehilangan unsur berjamaahnya secara fisik. Dalam perkara ini, hal yang tetap adalah terkait tawhid dan ibadah, ketika cara berjamaah pada dasarnya menyesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Oleh karena itu, ketimbang berlarut-larut dengan kerinduan psikologis pada kenangan akan kemapanan di masa lampau—the old normal—yang sebenarnya akan tetap menjadi kenangan, pilihan yang normal adalah melakukan hijrah secara menyeluruh. Umat Islam harus mampu sampai pada makna yang sebenarnya dari Idul Fitri—kembali ke fitrah kemanusiaan setelah berjuang sebulan penuh menempa hati, pikiran dan fisik di sepanjang Ramadhan.

Dengan semangat hijrah, Ramadhan dan Idul Fitri pula, umat Islam harus berpikir lebih positif dalam konteks relasi sosial dan politik di tengah pandemi ini. Saya tak melihat pemerintah negeri ini berniat buruk dengan memaksakan social distancing, sosial Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), pelarangan mudik dan seterusnya. Himbauan untuk tidak shalat berjamaah, berkumpul mendengarkan ceramah agama, atau merayakan Lebaran secara fisik dalam kerumunan adalah demi umat Islam sendiri.

Dan langkah-langkah itu juga bukan sekehendak hati mereka yang berposisi di pemerintahan. Tokoh-tokoh Islam dan lembaga-lembaga umat Islam terbesar dan terkemuka menyuarakan hal yang sama. Nahdlatul  Ulama (NU) dan Muhammadiyah secara resmi menyampaikan sikap mereka berdasar pertimbangan kemaslahatan. Tokoh-tokoh yang tak berafiliasi dengan kedua lembaga ini juga kurang lebih menyampaikan pesan yang sama.

Demikian pula dengan pemerintahan di negara-negara yang mayoritas berpenduduk Muslim lainnya di dunia atau seringkali menjadi rujukan bagi umat Islam. Bukan hanya menjelang Idul Fitri, sejak menjelang Ramadhan, umat Islam diminta untuk beribadah di rumah dan tidak berjamaah secara umum. Sehingga bukan hanya di Indonesia, masjid-masjid di Arab Saudi, Mesir, Turki dan negara-negara lainnya menjadi sepi.

Bahkan, dalam rangka mencegah penularan lebih luas, pemerintah Arab Saudi secara khusus memperpanjang masa lockdown sehingga mencakup hari-hari di mana biasanya Idul Fitri dirayakan dalam kerumunan. Itu dilakukan untuk durasi 24 jam sejak 23 sampai 27 Mei.

Pemerintah mesir kurang lebih juga melakukan hal yang sama. Total selama enam hari, dimulai sejak 24 Mei, transportasi publik akan ditutup, demikian pula dengan toko-toko, restoran, taman dan pantai-pantai tempat wisata. Bahkan penduduk diminta untuk diam di rumah selama dua pekan.

Oleh karena itu, hemat saya, dalam sisa Ramadhan ini, marilah kita lebih fokus untuk melakukan ibadah dengan baik. Apalagi di hari-hari teakhir menjelang Idul Fitri, Rasulullah mengajarkan berbagai keistimewaan. Beliau mengencangkan ibadahnya dan memfokuskan diri menuju Lailatul Qadr—malam kemuliaan.

Sesuai tradisi, adanya baiknya kita memperbanyak membaca Surah Yasin, Ar-Rahman, Al-Waqiah dan Al-Mulk. Mudah-mudahan, amalan ini membuat kita benar-benar bisa berserah diri sepenuhnya akan kekuasaan Allah (al-mulk) sehingga menyampaikan kita pada Rasulullah (Yaasiin), kasih-sayang Allah (ar-Rahmaan) dan kesalamatan di hari kiamat (al-waqi’ah).

Allaahu a’laam bi al-shawwaab.