Artikel

Jumat, 01 Mei 2020

Ramadhan di antara Krisis dan Rahmat

Lima hari menjelang Ramadhan, suhu Jakarta dan sekitarnya begitu panas. Cuaca tersebut berbeda dengan hari pertama hingga ketujuh puasa. Hujan hampir mengguyur bumi setiap hari. Bagi saya, ini terasa sebagai berkah tak terkira di tengah panas wabah corona.

Ramadhan kali ini memang berbeda. Tuhan menurunkan wabah sebelum, di saat dan diperkirakan juga sampai setelah bulan penuh rahmat ini. Mengikuti alur ajuran agama, tentu ada maksud Tuhan di balik ini semua, bagi alam dan manusia. Ini boleh jadi serupa dengan wabah tha’un, penyakit menular, di zaman Nabi Musa, yang disebabkan oleh sikap abai umat terhadap sesama.

Ramadhan kali ini, oleh karena itu, juga bisa dilihat menjadi semakin bermakna, yakni sebagai saat yang tepat untuk ber-muhasabah lebih dalam lagi dan berikhtiar supaya keluar dari bencana.

Namun kualitas kebermaknaan Ramadhan tersebut akan sangat tergantung pada seberapa positif pandangan dan sikap yang diambil. Kebermaknaan dan pada akhirnya keberhasilan ber-Ramadhan bertumpu pada sejauhmana pikiran positif dan oleh karena itu kedekatan dengan Tuhan berhasil dibangun. Dan kedekatan itu bisa diukur sendiri dengan sejauhmana langkah maju bisa dibuat: perasaan semakin yakin, kuat dan tulus dalam berbuat.

Ana ‘inda zhanni ‘abdi bi”, firman Tuhan dalam sebuah hadis qudsi, sebagaimana tertera dalam Sahih Bukhari, Juz 9.  “Aku senantiasa sebagaimana pikiran hamba-Ku tentang Aku”. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan dicantumkan dalam bagian yang membahas tawhid oleh Imam Bukhari. 

Dalam tafsir yang umum, hadis ini mengacu pada janji Tuhan tentang apa yang didapatkan oleh orang-orang yang percaya pada-Nya. Demikian pula, Tuhan akan mengampuni semua dosa kecuali dosa musyrik, atau perbuatan yang mempersekutukan diri-Nya dengan yang lain.

Di tengah wabah yang tengah melanda, menurut saya, hadis ini berhubungan dengan pikiran, sikap dan tindakan positif. Terlepas dari seberat apapun krisis yang tengah melanda diri atau suatu masyarakat, harus ada suatu pandangan kokoh tentang keberadaan Tuhan dan atas dasar pandangan tersebut sikap dan tindakan diambil.

Kata ‘zhann’ dalam hadis tersebut juga bisa berarti harapan atau ekspektasi serta mimpi atau cita-cita. Atas dasar keyakinan akan keberadaan dan pertolongan Tuhan, harapan bahwa satu saat wabah virus corona akan bisa diatasi harus mengatasi pikiran, sikap dan tindakan ragu-ragu atau putus asa.

Singkat kata, bagi seorang Muslim, diangkatkan atau tidak wabah ini tergantung pada keyakinan pada Tuhan dan sejauhmana keyakinan itu menjiwai apa pun yang dilakukan untuk mengatasinya. Dalam bahasa Zhunnun al-Misri, seorang sufi, pada titik ini “…engkau sadar betapa kuasa Allah ada pada semua hal—tanpa bercampur, bahwa Dia yang menciptakan semua tanpa manipulasi, bahwa Dialah penyebab segala yang tercipta….”

Kembali pada terik matahari dan cuaca panas menjelang Ramadhan, dengan ber-husnuzzhan atau berpikir positif, saya seperti melihat harapan. Jika merujuk pada pernyataan Menteri Kesehatan upamanya, itu seperti ditujukan untuk membunuh virus-virus yang tak kuat panas. Ketika kini sedang bermusim Covid-19, panas matahari tersebut bagai secercah harapan untuk menguatkan moral sekaligus pertanda bahwa wabah ini pada akhirnya akan bisa diatasi.

Namun demikian, berita ini tentu saja sebagai tambahan nutrisi saja bagi akal sehat kita. Riset  mengenai hal ini belum tuntas. Riset laboratorium terkini baru melaporkan bahwa peningkatan temperatur, kelembaban dan sinar matahari  bisa mempercepat destruksi virus corona (The Washington Post, 24 April).

Dalam rahmat yang dibawa Ramadhan juga, selanjutnya, pikiran dan sikap positif harus sampai pada maqam yang bisa disebut transformatif: berubahnya laku diri ke arah yang semakin baik.  Dengan kata lain, pertambahan kekuatan pikiran dan keyakinan memungkinkan perubahan tabiat atau kebiasaan-kebiasaan sebelumnya. 

Pertama, banyaknya variasi ibadah mahdhah atau ta’abbudiyyah—seperti shalat, puasa dan ibadah lain yang betul-betul langsung berurusan dengan Tuhan yang bisa dijalankan secara individual atau berjamaah bersama keluarga—memungkinkan perubahan kebiasaan dalam konteks social distancing,  pengurangan interaksi sosial fisik langsung. Jika betul-betul berhasil dalam menjalankan,  ragam ibadah mahdhah ini akan mengatasi dampak psikologis maupun sosial yang bisa terjadi di tengah situasi dan kondisi yang melahirkan kebosanan. 

Kedua, pada maqam atau tingkat yang transformatif tersebut, jika Ramadhan sebelumnya boleh jadi lebih didominasi oleh ibadah mahdhah, Ramadhan kali ini bagaimanapun juga harus dimaksimalisasi dengan ibadah ghairu mahdhah—seperti amal sosial dengan berinfak, tolong-menolong, dan bergotong royong—terutama yang berkaitan dengan bagaimana wabah dan segala dampaknya yang tengah melanda bisa diatasi.

Dalam konteks ini, selain berbentuk ibadah sosial yang berbasis harta-benda atau maaliyyah, juga dimungkinkan beribadah sosial berbentuk ‘amaliyyah, yakni keterlibatan secara pikiran atau fisik jika memungkinkan. Secara kasat mata, Muslim yang berprofesi sebagai dokter, perawat, dan tenaga bantuan bencana adalah orang-orang yang ber-amaliyyah langsung, sebagai mujahid yang bertempur di garis depan.

Namun ladang pahala dalam agama tersedia untuk semua. Secara maaliyah, kita bisa membantu tetangga, teman, komunitas atau kelompok sosial di mana kita aktif dengan masker dan disinfektan atau menyumbang dana atau fasilitas. Sedangkan secara ‘amaliyyah kita bisa memfasilitasi pekerjaan bagi mereka yang terkena pemutusan hubungan kerja, membuat dan menyebar konten-konten positif di media sosial, menggalang relasi dalam sebuah gerakan, dan bentuk-bentuk aktivisme positif lainnya.

Akhir kata, dalam Ramadahan ini, jika umat Islam mampu melakukan semua ini, berpikir dan bersikap positif tentang kehendak Tuhan dan atas dasar itu mentransformasi diri dengan ibadah-ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, wabah corona ini dengan segala dampaknya akan bisa dilalui dan diatasi. Bahkan ia akan menjadi jembatan bagi peningkatan kualitas diri dan sosial umat. Allaahu a’lam bi al-shawwaab.

 

   KATEGORI OPINI
   ARSIP
Tahun :
Bulan :
   ARTIKEL LAIN

Sabtu, 06 Jun 2020

Menikmati Kebahagiaan di Masa Pandemi

Menyetir VW Beetle menyusuri Jalan Sudirman pada Senin, 1 Juni lalu, lagu ...

Senin, 01 Jun 2020

Memaknai Silaturahim Virtual

Lebaran tahun 1441 H  atau 2020 M dirayakan secara berbeda. Kita dibatasi ...

Jumat, 22 Mei 2020

Berlebaran Secara New Normal

Idul Fitri atau Lebaran tahun ini, 1441 H—demikian pula halnya dengan ...