Artikel

Kamis, 09 Apr 2020

Krisis dan Sikap Satria Pemimpin

“When written in Chinese, the word “crisis” is composed of two characters. One represents danger and the other represents opportunity” (John F. Kennedy, 12 April 1959).

Paling kurang, sejauh yang tercatat, Kennedy menyampaikan pidato berkenaan dengan krisis tersebut dua kali di sepanjang masa kampanye untuk menjadi presiden Amerika Serikat. Pertama dalam sebuah kegiatan pengumpulan dana di United Negro College Fund, Indiana, pada 12 April 1959 dan kedua dalam sebuah kampanye di Valley Forge Country Club, Pennsylvania, 29 Oktober 1960.

Kata ‘krisis yang dalam bahasa Tionghoa dibaca weiji, terdiri dari dua karakter, wei dan ji, di mana yang pertama bisa diartikan ‘bahaya’ dan yang kedua bisa diartikan ‘kesempatan’. Dalam kutipan pidato yang lain, meskipun berbeda redaksi, terdapat tambahan sugestif di bagian akhir “In crisis, be aware of danger—but recognize the opportunity”. Kurang lebih, Kennedy menyarankan untuk berhati-hati dengan bahaya, namun di saat yang sama bahaya juga ‘mengandung’ kesempatan.

Seperti dilansir oleh Wikipedia, rupanya ungkapan tentang arti krisis ini menjadi meme yang populer di  AS dan bahkan di berbagai belahan dunia. Diperkenalkan oleh Benyamin Zimmer pada 1938, dalam sebuah jurnal missionaris untuk Cina, ungkapan ini berturut-turut diulang kembali oleh beberapa tokoh Amerika, seperti Condolezza Rice pada 2007 dalam pembicaraan perdamaian di Timur Tengah dan Wakil Presiden AS, Al Gore, dalam kuliah penerimaan Nobel Perdamaian pada tahun yang sama.

Namun ternyata, meskipun sudah disampaikan berbagai tokoh dan populer di kalangan pengusaha, politisi dan publik Amerika, ada yang mengoreksi kalau terjemahan karakter ji sebagai ‘kesempatan’ tidak sepenuhnya tepat. Karena merupakan kata polisemi, selain berarti ‘kesempatan’ kata ini juga berarti peristiwa konfidensial yang bisa berujung keberhasilan atau kegagalan.

Terlepas dari kontroversi pemaknaan tersebut, membaca kembali ungkapan Tionghoa tentang krisis ini sedikit banyak bisa memberi motivasi pada kita di tengah pandemi virus corona saat ini. Ini mirip dengan konteks di mana Kennedy menggunakannya pada masa kampanye untuk menjadi presiden, yakni di tengah krisis Perang Dingin yang dihadapi AS, serta krisis perdamaian dunia di mana Condolezza Rice dan Al Gore menjadi tokoh-tokoh yang terlibat aktif dalam penanganannya.

Makna pertama ‘bahaya’ jelas sudah sama-sama menjadi santapan kita sejak pandemi merebak. Kewaspadaan, yang bahkan mencapai derajat ketakutan atau bahkan paranoia telah menyebabkan terjadinya berbagai hal yang tak semestinya. Panic buying, misalnya, adalah di antara contoh ‘normal’ sebagai reaksi terhadap bahaya.

Adalah pemaknaan ‘bahaya’ juga yang menyebabkan sebagian pemimpin politik, pejabat negara atau tokoh-tokoh seperti kalang-kabut dan lupa dengan posisi mereka sebagai pemimpin. Seperti halnya orang kebanyakan, mereka bersikap reaktif, menyampaikan pesan-pesan atau informasi yang diulang-ulang, tidak lengkap, instruktif dan seringkali membingungkan.

Dalam situasi yang secara psikologis dimaknai sebagai ‘berbahaya’ ini, konsep koordinasi dan komunikasi efektif seperti mudah sekali timbul-tenggelam. Hari ini seorang pejabat publik bisa jadi berbicara tentang perlunya melakukan lock-down suatu wilayah, ketika esok harinya pejabat publik yang lain, dengan segala posisi yang ditempatinya berbicara lain, mengoreksi atau bahkan membatalkan. Bahkan masyarakat awam sekalipun, melihat rangkaian sikap reaksioner ini dalam menghadapi krisis, bisa jadi akan ragu dengan orang-orang yang bertindak sebagai pejabat publik tersebut.

Mungkin itu sebabnya, para tokoh dunia, seperti Kennedy, Rice dan Al Gore, mengulang-ulang soal betapa pentingnya penggunaan berbagai perspektif dalam melihat sesuatu. Kemampuan melihat krisis sebagai bahaya sekaligus kesempatan terkait dengan kemampuan menggunakan dua perspektif berbeda dalam melihat satu hal. Kemampuan semacam itu, selanjutnya, menjadi kunci dalam penyelesaian masalah (problem-solving) dan pembuatan keputusan (decision-making). 

Kemampuan menggunakan berbagai perspektif dalam melihat satu masalah biasanya berbuah pada  kemampuan berikutnya: fleksibilitas. Dalam khasanah kepemimpinan, fleksibilitas tak berarti ketiadaan otonomi dalam mengambil keputusan ataupun sikap plin-plan atau tidak berpendirian. Fleksibilitas adalah kemampuan untuk beradaptasi seiring perubahan situasi dan kondisi, melakukan improvisasi dan berganti strategi yang sesuai dalam menghadapi berbagai tantangan berbeda.

Perlu dicatat, tentu saja, bahwa melihat krisis sebagai kesempatan bisa juga berarti “menangguk di air keruh”. Seorang pemimpin politik, pejabat publik atau pelaku bisnis tentu tak seyogyanya melakukan itu. Tawaran yang lebih baik adalah apa yang disebut oleh Julian LeGrand, mantan penasihat mantan Perdana Menteri Inggris, Tony Blair, sebagai sikap mengambil posisi seorang kesatria (knight).

Dalam bukunya Motivation, Agency and Public Policy: of Knights and Knaves and Pawns and Queens (2003), LeGrand kurang lebih berpendapat bahwa pejabat publik, politisi atau siapapun yang mengurus urusan masyarakat banyak boleh saja berpikir, bersikap atau bertindak bagi kepentingan dirinya (self-interest). Akan tetapi, demi kepentingan mereka pula, tindakan kesatria untuk benar-benar mengurus publik juga harus dilakukan (altruism), sebab dengan cara itulah kelanggengan karir mereka akan terjamin karena berhasil dalam membangun dan mengembangkan kebajikan publik.

Pada masa krisis saat ini, oleh karena itu, seorang pemimpin di ranah publik bisa saja memandang atau menjadikan krisis sebagai kesempatan menunjukkan eksistensi diri, pencitraan politik, dan sebagainya. Namun demikian, kesempatan tersebut akan hapus percuma jika pemanfataaannya buruk atau bahkan ia akan menjadi bumerang bagi karir yang bersangkutan karena pengelolaan hasrat eksistensial atau politik yang tidak taktis.

Allaahu a’lam bi al-shawwaab.

   KATEGORI OPINI
   ARSIP
Tahun :
Bulan :
   ARTIKEL LAIN

Sabtu, 06 Jun 2020

Menikmati Kebahagiaan di Masa Pandemi

Menyetir VW Beetle menyusuri Jalan Sudirman pada Senin, 1 Juni lalu, lagu ...

Senin, 01 Jun 2020

Memaknai Silaturahim Virtual

Lebaran tahun 1441 H  atau 2020 M dirayakan secara berbeda. Kita dibatasi ...

Jumat, 22 Mei 2020

Berlebaran Secara New Normal

Idul Fitri atau Lebaran tahun ini, 1441 H—demikian pula halnya dengan ...