Artikel

Rabu, 04 Mar 2020

Satu Corona Satu Komando

Di tengah hujan kritik terhadap cara pemerintah menangani wabah virus corona atau Covid-19, di dalam ataupun luar negeri, saya tetap percaya negara saya. Indonesia adalah sebuah negara dengan pemerintahan sendiri, di mana sebagai salah seorang warga dan pejabat publik di dalamnya saya harus berpikir konstruktif, sekaligus berpartisipasi sebagai bagian tak terpisahkan.

Di sisi lain, bahwa cepat atau lambat Indonesia akan terdampak virus ini dan memakan korban adalah hal yang logis dan tak bisa ditolak. Demikian juga dengan negara-negara yang lebih maju dari segi pengamanan dan penanganan kesehatan warganya. Pandemi adalah pandemi. Tugas kita adalah berbuat dengan segala daya dan upaya serta tak lupa mengokohkan pikiran dan hati dengan ibadah dan doa.

Oleh karena itu, pertama-tama, saya ingin mengajak siapa pun juga untuk menerima bahwa virus ini sudah hadir di negeri ini. Tak perlu panik. Dari riset John Hopkins University, yang sejak awal terus menerus mengumpulkan dan menganalisis data penyebaran virus corona di seluruh dunia, ternyata 52 persen pasien berhasil sembuh dan hanya 3 persen yang meninggal.

Artinya, persentase pasien yang berhasil pulih sangat tinggi dibanding mereka yang meninggal.  Keterkendalian jumlah pasien yang pulih, dengan melihat perbandingannya dengan jumlah kasus baru, terjadi sejak 19 Februari 2020. Di samping tren keterkendalian, sampai 3 Maret ini, jumlah pasien sembuh sudah mencapai 48.002 orang.

Berita baik lainnya terkait dengan riset obat-obatan. Dilansir oleh National Institute of Health, para ahli di Cina dan beberapa negara telah menguji ribuan jenis obat. Di antara yang ditemukan efektif setelah dicobakan ke hewan adalah lopinavir, ritonavir dan remdesivir. Sementara itu, setelah dilakukan menjalani uji klinis di lebih dari 10 rumah sakit di Cina, chloroquine berhasil membantu para pasien dalam untuk lebih cepat pulih dari infeksi virus corona.

Kedua, secara manajerial, ada baiknya kita belajar pada Korea Selatan. Seperti dalam laporan abcnews.go.com, dari segi kecepatan dan keakuratan, per 28 Februari, Korea Selatan telah melakukan tes sejumlah 46.000. Jumlah ini jauh mengatasi Jepang (1.800), negara tetangga yang juga memiliki warga yang berinteraksi intens dengan warga Cina.

Salah satu kunci keberhasilan Korea Selatan adalah adanya sistem informasi yang efektif dan terbuka, yang memungkinkan pendataan jumlah korban dengan cepat, meskipun tentu saja mengagetkan. Secara rata-rata, dalam sehari, sejak dilaporkan pada 18 Februari, dari angka 31 kasus terjadi lonjakan mencapai angka 763 dalam enam hari kemudian.

Terkait semua kebijakan penanganan, pemerintah Korea Selatan tak tanggung-tanggung dalam menggelontorkan sumber daya dan pembiayaan. Dengan kecepatan yang mengalahkan Cina, Korea Selatan tak hanya berhasil melakukan pemetaan terus-menerus, tetapi juga tes terhadap mereka yang potensial terpapar virus, sterilisasi lokasi, serta pengobatan dan perawatan pasien. 

Kepercayaan terhadap penanganan yang sistemik membuat Presiden Moon Jae-in dan jajaran pemerintahannya tak berlaku panik. Sebaliknya mereka mengambil langkah-langkah yang cepat dan terukur. Kita baca dari jauh, selain melakukan berbagai langkah medis yang cepat, keputusan-keputusan politik pada tingkat negara langsung diambil.

Berdasar angka perkembangan jumlah korban, Korea Selatan segera menyatakan diri berada status siaga satu. Sekolah-sekolah diliburkan dalam masa percobaan selama tiga pekan. Kegiatan keagamaan yang bersifat kongregasional  dilarang. Demikian juga dengan berbagai kegiatan publik yang melibatkan massa dalam jumlah banyak seperti demonstrasi dan konser-konser. 

Untuk pendataan dan pengendalian penyebaran, pemerintah menjalankan sistem di mana otoritas kesehatan bekerja dengan dibantu partisipasi masyarakat secara aktif. Dalam sistem ini, berdasar perhitungan kasus, digunakan asumsi bahwa jika terdapat satu orang yang terpapar, akan terdapat paling kurang 180 orang yang pernah berinteraksi dengannya.  20 persen dari 180 orang tersebut termasuk kelompok paling riskan, seperti anggota keluarga dan petugas medis atau apotik.

Sebagai contoh, ketika seseorang terkonfirmasi telah terpapar, otoritas kesehatan paling kurang akan melakukan tiga hal, yakni menelusuri siapa pun yang pernah melakukan kontak dengan korban, menelusuri rekam jejak kunjungan (data mobilisasi), serta dari mana dan bagaimana mereka sampai terpapar.

Berdasarkan hasil ketiga penelusuran tersebut, otoritas kesehatan meminta mereka yang pernah kontak dengan korban untuk melakukan self-quarantine, memberitahu publik secara langsung tempat mana saja yang pernah dikunjungi korban, serta menutup atau mensterilisasi tempat-tempat tersebut. Alhasil, karena memiliki data yang lengkap dan selalu up-to-date, otoritas kesehatan bisa memberi arahan dan alternatif yang jelas kepada publik.

Seiring dengan itu, Korea Centers for Disease Control and Prevention (KCDC), pusat penanganan dan pencegahan penyakit Korea Selatan, bersama 17 lembaga riset di Korea mengembangkan sistem serta perangkat alat tes yang bisa menunjukkan hasil dalam 6 jam atau lebih cepat lagi. Perangkat tersebut telah tersedia di 50 pusat perawatan sejak 7 Februari.

Saat ini, sudah terdapat tenda-tenda pemeriksaan di berbagai lokasi, pengembangan klinik drive-thru, serta perlindungan kesehatan bagi semua tenaga kerja asing resmi atau tidak. Di atas semua itu, pelayanan kesehatan apapun terkait virus corona, baik itu konsultasi, pengobatan, serta perawatan, digratiskan.  

Ketiga, sebagai penutup, mengatasi kalkulasi ekonomi negara yang juga amat penting, saya berpandangan keselamatan warga negara tetaplah yang terpenting. Dan untuk itu, kita harus tetap percaya dan bertumpu pada sistem dan sains.

Secara sistemik, ketika hampir semua negara tetangga kita telah memilih untuk memaksimalkan semua sumber daya mereka, kita tentu tak elok ketinggalan. Hanya saja, itu haruslah dilakukan tetap di bawah satu komando, di bawah pemerintah Republik Indonesia yang sah.

Di samping itu, di tengah tingkat keterdidikan masyarakat yang beragam, para pejabat pemerintahan wajib untuk terus memastikan setiap warga negara berpikir, bersikap dan bertindak logis-rasional. Ungkapan-ungkapan yang bertentangan dengan khasanah ilmu-pengetahuan, dalam hal ini ilmu kedokteran dan farmasi, jangan sampai menjadi candu yang meracuni masyarakat.

Dengan kedua hal ini, saya yakin, kita akan keluar dari krisis akibat virus corona ini. Wallaahu a’lam bi al-shawwaab.

 

 

   KATEGORI OPINI
   ARSIP
Tahun :
Bulan :
   ARTIKEL LAIN

Rabu, 01 Apr 2020

Corona, Subsistensi dan Kredit

Tak semua orang di negeri ini hidup dari gaji—penghasilan tetap dari ...

Kamis, 26 Mar 2020

Corona dan Social Safety Net

Saat ini, ketika Cina telah mulai membuka diri karena sudah berhasil ...

Rabu, 18 Mar 2020

Bencana dan Semangat Keagamaan

Adalah manusiawi jika saat ini banyak yang gelisah atau bahkan ketakutan setiap ...